Blogger Template by Blogcrowds


Susilo Bambang Yudhoyono
By Anwar Ibrahim

The changes taking place in Indonesia today are among the most remarkable developments in the Muslim world. The country's transition from authoritarianism has proved that as a democracy, Indonesia can be culturally vibrant and economically prosperous.

Since winning the presidency in 2004, Susilo Bambang Yudhoyono has managed to keep the nation afloat, even during the current global recession. However, significant challenges lie ahead. Poverty remains pervasive in Indonesia, and the government must press onward with improvements to the country's ailing infrastructure. Businesses are confronted with a bewildering array of regulations, and the country pays a heavy price in corruption and bribery.

The coming presidential election promises to be good to Yudhoyono, 59, thanks in no small measure to his having for the most part delivered on his promises. The history of Indonesia's democratic journey may not be that long, but it has thus far shown that the country's people will not re-elect a President who falls short of expectations.

The time is right for Indonesia, as the world's most populous Muslim nation, to assume a more prominent position in Asia and throughout the Muslim world. In response to President Obama's warm overtures to Muslim countries for a new phase in relations with the U.S., Yudhoyono can take the lead and chart a new course for the region.

Ibrahim is currently an opposition leader in Malaysia and the former Deputy Prime Minister

Bangga dung punya presiden yang masuk dalam list 100 orang berpengaruh dunia tahun 2009 versi majalah TIME. Hopefully years after there will be more and more citizens of Indonesia who are on the list!

Ketika resesi ekonomi menyerang seluruh dunia, banyak perusahaan yang jatuh bangkrut. Mulai dari perusahaan-perusahaan multinasional hingga mereka yang bermain di tingkat regional dan nasional. Resesi ekonomi adalah bukti bahwa lingkungan, dalam hal apapun itu (misalnya: dalam bisnis, dalam kehidupan sosial, politik, teknologi, dsb) selalu berubah. Perubahan itu saling terkait. Ketika terjadi perubahan seperti resesi ekonomi, kehidupan sosial masyarakat yang tadinya menikmati kemakmuran pun menjadi terkena efek negatifnya. Pasar modal menjadi tidak karuan, nilai tukar mata uang tidak stabil, kepercayaan investor menjadi berkurang, penanaman modal tersendat, dan beragam efek-efek negatif lainnya dari perubahan lingkungan ekonomi ini.

Namun, masih banyak perusahaan yang berhasil survive sampai sekarang. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah mereka yang telah menyiapkan diri menghadapi perubahan. Mereka sadar betul bahwa perusahaan harus terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan.

Perusahaan harus terus belajar sesuai dengan filosofi ilmu yang tidak berujung, yang akan berakibat pada kesiapan perusahaan membaca perubahan lingkungan dan mengantisipasi serta telah siap dengan langkah-langkah penyelematan jika perubahan mempengaruhi perusahaan.


Sedangkan bagi mereka yang tidak berubah, banyak yang terlalu nyaman dengan comfort zone masing-masing. Banyak yang merasa status quo mereka adalah yang terbaik. Dengan pemikiran seperti ini, akhirnya menimbulkan ketidaksigapan dalam membaca perubahan lingkungan. Padahal ketika perubahan itu bersifat kecil dampaknya, hal yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah berani berinovasi, keluar dari comfort zone. Meskipun perubahan membawa efek takut dikritik, takut gagal, takut kredibilitas menurun karena kegagalan/kritik tersebut.


Mereka yang tidak mau berubah, dapat merasakan efek peruabahan yang bersifat mengikis atau ada juga yang seperti tsunami, tiba-tiba dan sangat mematikan. Ketika perubahan itu mengikis, tindak pencegahan dapat lebih mudah dilakukan. Namun ketika ia adalah tsunami, perusahaan tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Selain pasti akan tertinggal oleh pesaing, tidak mengikuti perubahan akan membuat budaya dalam perusahaan menjadi budaya yang close minded. Budaya operasional yang membawa pada putaran dilingkaran setan. Sementara diluar sana, terjadi arus perubahan yang tidak berhenti yang sewaktu-waktu siap menghantam bangunan kokoh dan kaku perusahaan.

Whether you love it or hate it, there is no escaping Jakarta, Indonesia’s overweight capital. This ‘Big Durian’ is filled with all the good and bad of Indonesian life. At first glance, this hot, smoggy city, which sprawls for miles over a featureless plain, feels like nothing more than a waiting lounge for the millions queuing up to make their fortune. Jakarta’s infamous macet chokes its freeways, town planning is anathema and all attempts to forge a central focal point for the city have stuttered and ultimately failed. The first – or only – thought on most travellers’ minds is how quickly the city and its polluted streets can be left behind.
Taken from: http://www.lonelyplanet.com/indonesia/jakarta


I don’t even know what is my feeling toward that statement. Yeah sure the description is quite true. Jakarta is a mess in so many ways. But it doesn’t mean that it is that bad!
You still can found Jakarta as a major player in economic, politic and social in South East Asia.

You still can found interesting places to go. From Monumen Nasional to five stars malls or just to hang around enjoying Kota Tua. Jakarta is a symbol of Indonesia trying to learn about modernism and democratization after Soeharto’s era. Jakarta is still having so much troubles right now but we are trying to better every single day.


Well, maybe the statement should be a warning to us, the citizen of Indonesia and especially those who lived in Jakarta. Maybe if we can rely on our unreliable government, we should do something to help shape the future of our beloved city and nation.

Cobalah kita mengambil 2 buah tali dengan bahan apa saja. Kemudian, saling ikatkan ujung tali itu, namun jangan terlalu besar ujung yang diambil untuk diikat. Kemudian, cobalah menarik tali itu, kemungkinan tali yang kita ikat dapat dengan mudah putus (tentu saja tidak berlaku untuk tali tambang!).

Percobaan yang berikut, masih dengan tali yang sama, saling ikatkan kedua tali tersebut, kali ini dengan ujung yang lebih besar. Kemudian, cobalah menarik tali itu. Akan sangat sulit bagi kita untuk dapat memutuskan kedua tali tersebut.


Dalam sebuah komunitas, kita ibarat seutas tali yang hidup dengan tali-tali lainnya. Dalam komunitas, antara satu tali dengan tali lain diikat sekuat mungkin. Perumpaan ini ingin menunjukkan bahwa semakin besar dan kuat ikatan kita, komunitas tersebut akan sangat sulit diputus/dipatahkan. Selain itu, bukan hanya masalah betapa kuatnya simpul tali tersebut, namun simpul tali, seberapa besar bagian yang kita ikatkan, juga menunjukkan ego kita.

Ego kita dalam sebuah komunitas, semakin banyak kita ikatkan dengan orang lain, akan memperkuat komunitas tersebut. Meskipun saat diikat, ego kita pastilah sakit karena berbenturan dengan ego orang lain, namun hasil yang didapatkan pun akan jauh lebih memperkuat komunitas tersebut.


Manusia lahir dengan egonya masing-masing. Namun seperti yang diakatakan Rick Warren dalam bukunya The Purpose Driven Life, kita harus hidup menjadi orang dewasa. Yang artinya bahwa kita harus bisa saling mengikatkan ego kita dalam sebuah komunitas. Kita tidak bisa memaksakan ego kita masing-masing, karena jika demikian yang kita lakukan, itu sama saja dengan kita hidup dengan mental anak kecil yang ingin selalu dituruti kehendaknya.

Hilary Clinton ke Indonesia!
Heboh dimana2, terutama di koran karena kedatangan menteri luar negeri AS ini merupakan simbol penghargaan AS ke Indonesia. Mrs. Clinton juga mengatakan dalam kunjungannya ini, disebabkan karena ia ingin melihat Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam yang mampu menjalankan demokrasi dengan sangat baik.

Selain itu, Hilary Clinton juga mengunjungi pembuatan MCK++ di Petojo yang merupakan sumbangan dari rakyat AS. Yang saya bingung, kenapa juga sampai fasilitas sederhana seperti MCK harus disediakan oleh pemerintah AS! ke mana ajah pemerintah kita? Kenapa fasilitas umum yang sederhana pada akhirnya harus diberikan oleh pemerintah negara lain? hmm..mungkin ada kali yah MCK2..tapi ga terawat dan akhirnya jadi jorog (seperti kebanyakan WC2 di tempat umum, cth: Bandara International Soekarno-Hatta!).

Hilary Clinton mengunjungi MCK++ di Petojo

Bagi saya, kedatangan Hilary Clint
on merupakan hal yang patut dibanggakan Indonesia terutama karena alasan dan pujian yang diberikan menteri luar negeri AS ini. Namun kita juga harus ngaca, kenapa hingga sekarang yang namanya fasilitas umum sama sekali tidak menjadi prioritas pemerintah. Apakah fasilitas umum itu memang tidaklah penting? Telepon umum contohnya, sekarang lebih banyak ditemukan di mall2 daripada di jalan! Apakah semua orang Indonesia sudah harus punya HP? Kasihan sekali kaum miskin yang kata UUD dipelihara oleh negara.

Global warming adalah salah satu isu paling hangat, bahkan panas belakangan ini. Banyak orang yang begitu concern terhadap masalah ini sehingga berbagai gerakan pun muncul untuk menunjukkan support terhadap isu yang mempertaruhkan masa depan bumi ini. Salah satu yang menurut saya sangat luar biasa terhadap kepedulian akan lingkungan adalah Green School di Bali.

Saya sendiri baru saja mendengar tentang sekolah yang satu ini. Bukan hanya dari keunikannya yang luar biasa karena keseluruhan struktur bangunan dibuat dari bambu, namun karena visi misinya yang luar biasa yang membuat sekolah ini benar-benar berbeda. Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini.

Sekolah ini jelas bukan sekolah main-main. Kehebatannya sudah terdengar hingga masuk diliputan CNN dan baru saja di majalah Time. Penulis The World is Flat, Thomas L.Friedman pun sudah pernah berkunjung ke tempat luar biasa ini.

Yang paling saya kagumi adalah pencetus sekolah ini, John Hardy dan Cynthia Hardy. Proyek raksasa ini jelas penuh resiko dan penuh dengan tantangan dalam menyelesaikannya. Saya rasa mungkin kalau saya yang membangunnya, saya akan berpikir apakah mungkin bisa menyatukan keindahan alam dengan pendidikan berstandar Internasional. Apa ada yang mau bersekolah di alam yang sangat asli, menanam buah dan sayuran sendiri, bermain bersama kambing, duduk dengan alas bambu, dan belajar bersatu dengan alam. Sedangkan di sekolah lain, selalu yang ditonjolkan adalah fasilitas yang sangat luar biasa, kemodernan gedung, kecanggihan teknologi pendukung, dsb. Ternyata ada dua orang yang sangat luar biasa ini yang berani maju untuk mewujudkan mimpi mereka.

Satu hal lagi yang saya kagumi adalah arti pendidikan itu sendiri bagi Green School. Dalam videonya di CNN, Green School ingin memberikan pendidikan yang menyeimbangkan kemampuan akademik, artistik, sosial dan sentuhan budaya khas Bali pun menjadi nilai tambah. Tak lupa yang paling penting adalah pemahaman untuk mencintai alam mulai dari usia awal. Sekolah yang baru dibuka pada September 2008 ini telah memiliki 103 siswa dan saya sangat yakin akan semakin banyak murid nantinya yang akan menikmati kesederhanaan dan keindahan alam dalam pendidikan berbasis Internasional.

Ada banyak sekali orang yang menganggap bahwa kesempatan adalah hal yang sangat patut ditunggu dan tidak boleh dilewatkan. Jelas sekali bahwa hal itu benar adanya. Kesempatan tidak datang dua kali, seperti yang banyak dikatakan orang. Kesempatan adalah hal yang bisa saja datang sangat sering atau sangat jarang dan karenanya, ia adalah harta yang tak ternilai harganya.


Sekarang bagaimana kalau ternyata kita adalah orang yang mampu menciptakan kesempatan? Bahwa kesempatan itu tidak datang, namun diciptakan oleh manusia. Kita bukan hanya sekedar mencari kesempatan, namun menciptakan kesempatan.

Dalam talk show Kick Andy diceritakan mengenai Era Bakti Pertiwi. Seorang dokter yang baru saja lulus dan karena tidak percaya diri menunggu datangnya kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Setelah membaca buku Laskar Pelangi, ia menjadi sadar bahwa ini bukan saatnya untuk menunggu kesempatan. Manusia diciptakan untuk mencari dan menciptakan kesempatan itu sendiri.

Seperti apa menciptakan kesempatan itu? Dengan pertama-tama dan yang terutama adalah memiliki visi yang jelas tentang arah hidup. Kemudian menjadi orang yang gigih, semangat, tidak mudah putus asa apalagi menyerah pada keadaan. Singkatnya, menjadi manusia yang efektif seperti ditulis Stephen R.Covey dalam The 7th Habits of Highly Effective People. Atau menjadi orang yang memanfaatkan keterampilan yang ia miliki untuk menciptakan kesempatan itu, misalnya menjadi seorang entrepreneur.

Orang-orang yang hanya berpasrah saja menunggu datangnya kesempatan tidak memiliki kebulatan tekad untuk mencapai apa yang ia inginkan. Lebih gawat lagi, tidak tahu apa yang ia inginkan. Pengaruh lingkungan, termasuk keluarga dan masyarakat serta budaya jelas memberi efek besar pada paradigma memanfaatkan kesempatan yang ada (yang datang entah kapan) atau menciptakan kesempatan itu sendiri.

Kesempatan yang ditunggu berarti tidak memiliki visi. Kesempatan yang dicari dan diciptakan berarti mengetahui visi dan memperjuangkannya. Ketika kita berpasrah, kita tidak punya semangat juang yang tinggi. Ketika hal itu terjadi, sama saja dengan kita tidak memiliki kehidupan untuk diperjuangkan. Semuanya harus tergantung pada pengaruh orang lain, pengaruh teman, keluarga, lingkungan. Hanya menunggu, menerima, pasrah dan tidak mengubah keadaan. Hanya menunggu kesempatan dan tidak menciptakan kesempatan.

Older Posts