1.7.08

Dying to be Perfect

Sudah pernah bertemu dengan orang perfeksionis? teman, saudara atau anda sendiri? well, saya juga termasuk salah satunya.

Kalau ditanya, apa sih definisi perfeksionis? kebanyakan dari buku-buku psikologi akan menekankan kalau perfeksionis adalah sifat yang negatif, tidak hidup dalam realitas dan hanya penuh dengan mimpi-mimpi yang diluar jangkauannya. Intinya, tidak ada yang perfect di dunia ini, sehingga menjadi perfeksionis adalah hal yang salah besar! itu menurut kesimpulan saya setelah membaca beberapa buku dan tes-tes personlaity yang ada di internet.

Perfeksionis bagi saya sendiri ada 2 jenis, perfeksionis yang positif dan negatif. Kita lihat yang negatif dulu. Mereka yang perfeksionis negatif punya sikap yang selama ini selalu dibahas oleh buku-buku dan tes personality. Entah itu terlalu ambisius, tidak melihat realita dan segala sesuatunya tidak pernah ia anggap sudah tepat.

Perfeksionis positif kalau menurut saya adalah orang-orang yang brilian. Mengapa? karena sikap mereka yang perfeksionis itu diimbangi dengan pikiran yang positif. Dalam arti, kalau seorang yang perfeksionis positif melakukan suatu pekerjaan, mereka memang punya standar yang tinggi (sangat tinggi malah). Lalu, ketika pekerjaan itu berjalan, mereka melihat bahwa hasil yang mereka dapatkan sudah cukup bagus, alhasil target yang tinggi itu pun ditinggikan lagi, karena menurut mereka itu belumlah cukup. Sampai pada pekerjaan itu selesai, pekerjaan itu tidak akan memnuhi target karena target itu sendiri terus dinaikkan. Tapi yang berbeda dengan mereka yang negatif, mereka yang positif tahu betul bahwa pekerjaan itu memang tidak sesuai target, dan mereka sadar kalau tidak ada yang sempurna didunia ini. Tapi lihat saja hasilnya, katakanlah target pekerjaan itu harus selesai dengan minimal 50 halaman dalam 3 hari. Saat melihat progress berjalan baik dihari pertama, orang itu kemudian menambah lagi jumlah halaman menjadi 75 halaman. Akhirnya pada hari ketiga, orang tersebut mampu untuk membuat 65 halaman. Meskipun memang tidak sesuai target, toh hasilnya sudah melampaui 50 halaman minimal.

Selain itu, perfeksionis positif adalah mereka yang pintar memotivasi diri sendiri. Karena adanya target yang terus menerus naik, mereka terus terpacu untuk semakin baik. Orang-orang seperti ini adalah visioner yang sangat berani dan juga action oriented. Pekerja keras dan tidak pernah puas. Burukkah? menurut saya sama sekali tidak, malah orang-orang yang seperti inilah yang sangat dibutuhkan, orang yang sangat antusias dan tidak cepat puas. Ingat, mereka sadar betul tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi toh mereka berusaha untuk terus mengejar kesempurnaan itu.

But remember, jangan menjadi perfeksionis negatif yang kalau target tidak sesuai kemudian menjadi frustasi dan stress. Dying to be perfect? tidak akan ada yang bisa, tapi kalau kita menjadi perfeksionis positif, at least we TRY to be one, daripada tidak sama sekali.

6 comments:

  1. wew...
    saia setuju dengan pendapat bung johan

    tapi.. ada 1 kesamaan dari perfectionist positif dan negatif..

    org yang perfectionist tidak mudah percaya, dan menaruh kepercayaan pada orang lain.
    sebagai contoh : seorang ketua kelompok yang perfectionist akan membagikan tugas2 kepada anggotanya... dan setelah waktu deadline pengumpulan tugas itu, sang ketua selalu tidak merasa puas, dan merasa ada yang "kurang" jika hasil kerja itu bukan kerjaan dia sendiri....

    mnurut ku.. itu adalah dampak buruk bagi org yang perfectionist... sebab nantinya org2 dengan kepribadian seperti ini akan "mati" sendiri jika terjun dalam dunia sosial....

    jadi... back to the topic...
    emang semua ada + dan - nya
    hal yang buruk musti di kurangin, yang bagus musti di ambil

    bukan begitu bro?

    ^^V peaceeee

    ReplyDelete
  2. well, kalau dalam context sosial, saya rasa orang2 perfeksionis bisa tidak bisa dikatakan kurang mampu. Mungkin bagi mereka yang bekerjasama dengan orang tipe ini, pada awalnya mereka bisa berantem heboh :p

    Tapi, percayalah kalau sebuah tim sangat butuh orang-orang seperti ini. Mengapa? karena mereka membawa PERUBAHAN. Standar mereka yang tinggi melampaui standar dr grup itu sendiri, sehingga jelas bekerja dengan orang perfeksionis positif akan membawa grup itu mampu melampaui target minimal, istilahnya beyond expectation.

    Apakah harus ia kerjakan sendiri, kalau tidak akan ada yang 'kurang'? hmm..kalau menurut saya, tidak harus demikian. Kalau mereka yang positif adalah mereka yang tidak perlu khawatir menyerahkan pekerjaan ke orang lain. Tidak perlu ada rasa cemas kalau pekerjaan itu tidak selesai. Karena mereka yang positif haruslah mampu untuk berkomunikasi dengan timnya. Kalau tidak, maka ia akan jadi perkesionis negatif kan? hehe..

    ReplyDelete
  3. apakah bung johan berpikir bahwa saya juga adalah org perfeksionis?D:

    soalnya gw kadang2 cenderung bgtu seh...trutama klo ada tugas presentasi kelompok,maka gw akan strike for the best n mengharapkan setiap anggota kelompok spy berkontribusi yg terbaik bwat presentasi itu XD
    ...tp biasanya seh ujg2nya mrk cari bahan n kerjain bagiannya masing2,lalu gw edit2 lagi akhirnya XD

    apakah saya termasuk perfeksionis plus ato min?XD

    ReplyDelete
  4. @aldo: sometimes saya juga begitu kok :p

    ya namanya juga tak ada yang murni 100% positif di dunia ini. Kalau kasih kerjaan trus akhirnya diedit lagi, sebenarnya itu karena kita melihat kalau pekerjaan teman kita itu tidak sesuai dengan target yang kita harapkan. Bad? yes, because we are not appreciate our friends for what they already did.

    Sudah bebeapa kali saya juga mengalami hal yang sama dan kalau saya segh menawarkan solusi, yaitu ngomong dolo diawalnya bagaimana kita mengharapkan dengan jelas pekerjaan itu nantinya ketika seudah selesai dilaksanakan. Awalnya, mungkin teman2 kita akan mengganggap target kita keterlaluan atau berlebihan, tapi kalau kita mampu menerangkan efek positifnya ke mereka, saya yakin kok mereka juga mau mengerjakan pekerjaan itu dan pada akhirnya termotivasi oleh antusias yang harus kita tularkan.

    ReplyDelete
  5. Perfeksionis itu bagus kalo tidak berlebihan. Balance is good eh? All of it for the sake of perfection... :)

    ReplyDelete
  6. Perfeksionis memang tidak boleh selalu kita pegang menjadi idelogi kita. Lama2 bisa stress juga. Sometimes we need to have fun and forget all the perfection.

    Yin and Yang, right? :p

    ReplyDelete