Blogger Template by Blogcrowds

Di sebuah desa, hiduplah seorang kakek yang bekerja sebagai pemahat. Di halaman depan rumah kakek tersebut, terdapat sebuah bongkahan batu besar. Suatu kali datanglah seorang pemuda yang kemudian bertanya pada sang kakek. “kek, untuk apa kakek menyimpan bongkahan batu besar yang jelek itu di depan rumah kakek, bukankah itu menggangu keindahan rumah kakek?” Sang kakek hanya tersenyum dan tetap bersikeras untuk menaruh bongkahan batu tersebut di depan rumahnya.

Beberapa tahun kemudian, sang pemuda yang sudah dewasa kembali ke desanya setelah sukses bekerja di kota. Ia melihat halaman depan rumah sang kakek dan ia melihat sebuah patung malaikat yang sangat indah di sana. Ia menjadi penasaran karena setahu dia, di depan rumah sang kakek yang ada hanya bongkahan batu besar yang jelek itu. Ia pun ke rumah sang kakek dan bertanya, “kek, ke mana bongkahan batu besar yang dulu kakek taruh di depan rumah kakek? Kenapa sekarang yang ada sebuah patung malaikat yang sangat indah?” Sang kakek kemudian menjawab “kau sedang memandang bongkahan batu besar itu sekarang ini”.

Cerita di atas mengisahkan tentang betapa mudahnya kita menghakimi seseorang dalam hidup kita. Hanya karena melihat ia sebuah bongkahan batu besar yang jelek, kemudian kita berpikir bahwa ia selamanya akan menjadi bongkahan batu besar dan jelek. Sang kakek memahat batu tersebut hingga menjadi patung malaikat yang sangat indah dengan lama dan menyakitkan. Setiap pahatan tentu akan mengikis sang batu hingga akhirnya mampu menjadi patung malaikat. Butuh waktu yang lama untuk dapat membuatnya menjadi malaikat, namun pada akhirnya batu tersebut berubah.

Kita adalah bongkahan batu yang jelek tersebut. Hal itu terjadi karena kita belum memanfaatkan waktu kita semaksimal mungkin untuk mau dipahat. Meskipun akan menyakitkan dan memakan waktu yang sangat lama, namun pahatan demi pahatan tersebut akan mengubah hidup kita. Pahatan bisa datang dari siapa saja, mana saja, kapan saja dan terus berlangsung dalam hidup ini. Pahatan bisa datang dari orangtua kita, teman, saudara, guru sekolah kita, televisi, buku, majalah, tempat ibadah, dsb. Kita dipahat dan akan terus dipahat untuk menjadi malaikat yang indah. Jika hanya berdiam diri dan menolak pahatan yang menyakitkan, kita akan tetap menjadi bongkahan batu yang jelek selama hidup kita.

0 Comments:

Post a Comment



Newer Post Older Post Home