Setiap bulan Agustus di Indonesia, kita akan melihat beribu-ribu bendera merah putih berkibar, baik di depan rumah-rumah warga hingga ke mall-mall seluruh Indonesia. Dari yang terlihat jelas hingga bendera-bendera kecil sebagai penghias berbagai macam acara guna menyambut kemerdekaan bangsa ini. Malahan warna merah putih ini bisa juga terlihat dominan pada baju-baju yang dipakai warga, khususnya pada tanggal 17 Agustus. Tak tertinggal, berbagai acara mulai dari menghias gapura hingga konser besar pun diadakan demi menghidupkan kembali nasionalisme.
Agustus memang bulan penuh makna buat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, semua dapat menikmati semangat kebangsaan ini. Dari mana semangat ini dirasakan? Salah satunya adalah kekuatan media massa. Namun Agustus kali ini sedikit terasa berbeda dibanding sebelumnya. Media massa sepertinya dipenuhi oleh iklan-iklan yang memang menyebarkan semangat nasionalisme, namun iklan-iklan ini bukan semata-mata iklan layanan masyarakat, namun iklan yang dibuat berbagai partai ataupun tokoh politik. Apakah itu salah? Menurut saya tidak. Iklan-iklan dari berbagai partai dan tokokh politik bisa dikatakan menjadi salah satu sarana untuk memunculkan semangat nasionalisme ini. Tapi sungguh disayangkan, maksud baik ini kadangkala memiliki niat tersembunyi.
Hal inilah yang menjadi perbincangan hangat saat ini. Salahkah iklan-iklan berbau politik ini? Kalau memang partai-partai mengatakan iklan ini semanta-mata untuk kepentingan bangsa tanpa campur tangan keinginan partai, apakah itu bisa 100% dipercaya? Wah, tapi kalau sudah ngomongin kepercayaan warga ke partai, itu urusannya sudah sangat-sangat panjang.
Banyak yang bilang, iklan-iklan ini dibuat untuk nyolong start kampanye 2009. Meninggalkan pertanyaan sebenarnya apakah iklan-iklan ini mampu memberikan feedback yang positif untuk sang pengiklan. Seberapa besar kepercayaan rakyat yang timbul hanya karena melihat iklan semata?
Bisa dibilang rakyat sekarang tidak butuh lagi awarness semata. Hanya dengan mengetahui siapa saja yang beriklan di televisi tidak berarti akan mendongkrak sang pengiklan di pemilu mendatang. Rakyat tidak butuh janji-janji seperti yang diberikan oleh iklan-iklan tersebut. Semangat nasionalisme yang dikemas sangat apik bukan berarti apa yang ditawarkan oleh para pengiklan tersebut juga seapik iklannya.
Sangat disayangkan partai-partai/politisi sekarang banyak yang menggunakan media massa sebagai ‘jalan pintas’ mendapatkan awarness dan popularitas. Bahkan hal ini bisa dikatakan langkah agresif yang sangat tidak pro rakyat. Mengapa demikian? Karena jelas terdapat pesan-pesan yang menginginkan image dari iklan sesuai dengan partai/politisi tersebut. Tapi pada kenyataanya sungguh ironis. Sepuluh tahun reformasi tidak mampu membuat para partai/politisi membenahi negara, malahan semakin haus dengan kekuasaan.
Apakah ini babak baru dari dunia politik Indonesia? Beramai-beramai berkampanye lewat media massa sebagai jalan pintas? Wah, kalau begitu sungguh berbahaya sekali. Nasionalisme kita hanya sebatas menunjukkan iklan yang diskenariokan agar nampak pro rakyat. Bukannya dengan kegiatan konkret yang benar-benar berguna demi negara dan bukan demi kepentingan partai/individu.
Category: Nationality
