Blogger Template by Blogcrowds

I Have a Dream

November mendatang, Barack Obama, calon presiden dari Partai Demokrat akan bertarung dengan John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Munculnya Barack Obama merupakan bukti nyata dari toleransi kebangsaan Amerika Serikat.

Toleransi itu merupakan toleransi yang tidak mengenal batas rasial, agama, budaya bahkan latar belakang sekalipun. Mengutip pernyataan Marthin Luther King dalam speechnya yang sangat terkenal I Have a Dream,

"I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character”
.

Menurut saya, kutipan tersebut menggambarkan sebuah impian yang selalu menjadi dambaan setiap orang. Bukan menilai dari luarnya saja, bukan menilai dari segi SARA, namun menilai orang lain karena apa yang dimiliki orang tersebut dari dalam. Menilai karakter orang bukan semata-mata karena ia BERBEDA dan bukan kelompok mayoritas lalu disepelehkan.

Saya juga punya mimpi, suatu hari nanti pernyataan Marthin luhter King juga dapat tercapai di Indonesia. Sebagai negara demokratis, toleransi yang tidak mengenal batas harus bisa dirasakan tidak hanya di kota-kota besar saja, namun hingga ke pelosok-pelosok pedalaman Indonesia. Harus tercapai pengertian bahwa perbedaan adalah warna yang menjadikan hidup lebih bermakna dan oleh karenanya, toleransi terhadapa perbedaan harus mampu dirasakan semua orang di Indonesia.

Toleransi kebangsaan dalam SEMUA BIDANG tanpa adanya pengecualian. Hanya karena perbedaan ras, agama, budaya, latar belakang, dsb, tidak boleh menjadi alalsan yang mematahkan semangat orang tersebut. Karena semua orang mampu menjadi apa pun yang ia inginkan, terlepas oleh jerat apapun juga. Itulah toleransi yang sebenarnya. Toleransi yang memberikan hak kepada siapa pun untuk berkembang tanpa membeda-bedakan. Toleransi untuk dihargai sepenuhnya sebagai manusia utuh.

Dan toleransi di Indonesia harus mampu menjadikan kaum minoritas sekalipun merasa dihargai. Ini menjadi isu yang tak nampak secara jelas, namun masih dapat dirasakan. Adanya diskriminasi ‘kecil-kecilan’ yang bisa menimbulkan kembali persepsi negatif seperti yang terjadi pada reformasi 98. Diskriminasi ‘kecil-kecilan’ yang terjadi di daerah-daerah atau bahkan didaerah yang masih kurang mendapat pemahaman yang sungguh-sungguh mengenai toleransi. Inilah yang harus menjadi salah satu PR pemerintah dan kita semua. Memperlakukan orang lain dengan hormat karena ia sama dengan kita, harus berlaku di semua orang, baik minoritas terutama mayoritas.

Kalau selama ini Indonesia dikenal karena perbedaannya yang menjadi semangat untuk bersatu, semoga hal itu memang benar sesuai dengan slogan kita, Bhinneka Tunggal Ika,
Unity in Diversity.

3 Comments:

  1. Ten Ryu said...
    well, to hate something difference is the nature of humans. But, to embrace difference and to see deeper is the nature of great humans... :)
    Johan said...
    aih, sungguh kata2 yang indah sekali ten ryu, hehe..thx u!
    kebenaran said...
    jamu psikologi kunjungi www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit

Post a Comment



Newer Post Older Post Home