Sekolah selama ini dipandang sebagai lembaga yang mampu memberikan pendidikan kepada siswa-siswinya. Pendidikan tersebut meliputi berbagai bidang, mulai dari eksakta, sosial, sejarah, ilmu alam, olahraga dsb. Siswa-siswi pun dituntut untuk dapat berprestasi diberbagai bidang tersebut. Gunanya jelas untuk kemajuan sang siswa/i dan pada kelanjutannya mampu memberi nama untuk sekolah.
Di satu sisi, seluruh bidang pendidikan yang diberikan oleh sekolah terkesan sangat school oriented namun tidak reality oriented. Dalam arti, materi yang diberikan umumnya hanya berupa teori semata. Sebagai contoh, semangat nasionalisme kebangsaan haruslah menjadi salah satu upaya yang ditimbulkan oleh sekolah. Tidak hanya dengan mengajaar materi sejarah Indonesia, namun sekolah juga harus mampu membentuk berbagai kegiatan efektif guna mecapai tujuan ini. Sama halnya dengan bidang-bidang lainnya. Praktek untuk menjadikan siswa menjadi menyukai dan terinspirasi pada suatu bidang masih sangat kurang didapatkan siswa di sekolah Indonesia pada umumnya. Siswa/i kebanyakan malah mendapatkan berbagai pengetahuan yang sangat reality oriented ini di luar sekolah, misalnya pada televisi, internet bahkan majalah. Sayangnya, hanya siswa/i yang sadar betul pentingnya membaca dan menikmati media yang berguna untuk tambahan informasi mereka adalah siswa yang berpengetahuan luas dan terlihat lebih menonjol dibanding teman-temannya.
Sungguh disayangkan saat ini informasi-informasi penting yang bersifat reality oriented jarang disajikan sekolah pada umumnya. Saya pernah menanyakan kepada beberapa siswa SMA tempat saya bersekolah dulu mengenai pemilu AS 2008 dan feedback yang saya dapatkan cukup mencengangkan. Semua yang saya tanyakan pendapat mereka tentang siapa yang akan memenangkan pemilu tersebut malah bertanya pada saya,”emangnya pemilunya lom mulai yah?” atau ada yang bertanya “Obama itu siapa ya?”
Kalau dikatakan bahwa belum saatnya anak sekolah tingkat SMA mengetahui berita-berita semacam itu, saya sangat menyangkannya. Apakah selama ini kepintaran anak Indonesia hanya karena mampu menghafal apa yang diajarkan oleh buku semata? Lalu jika berhadapan dengan berbagai realita, dimana posisi anak Indonesia? Sungguh disayangkan hanya segelintir saja yang mampu menjadi anak yang proaktif dan mencari sendiri berbagai informasi dunia nyata dengan membaca.
PR besar untuk sekolah bagi saya adalah menghadapkan siswa pada dunia nyata dan keluar dari dunia buku pelajaran yang teoritis. Percuma saja mengajarkan semangat gotong royong kepada siswa/i jika pada kenyataanya di masyarakat, semangat ini sudah hampir tidak ada. Membahas semangat gotong royong akan lebih efektif jika siswa/i dibawa pada kehidupan nyata dan dibandingkan dengan teori yang ada pada buku pelajaran. Mendebatkan sesuatu yang tertulis dibuku akan jauh lebih berguna daripada sekedar menghafalkan isi buku. Tidak semua apa yang tertulis dibuku adalah hal yang pasti benar atau pasti akan diaplikasikan pada kehidupan nyata. Jangan sampai yang terjadi adalah sekolah mencetak siswa yang pintar sekedar pintar menghafal. Dengan mendekatkan siswa pada realitas, siswa/i akan mampu menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak, mengenal dunia nyata dan betul-betul bertumbuh menjadi siswa/i yang proaktif, kreatif dan mampu menghadirkan solusi untuk masa depannya dan bahkan untuk masa depan Indonesia.
Category: Nationality

Wew, a lot of homework in education matter for this country huh?