I’m sick of our education system! Yeah, SICK!
Sebagian besar orang Indonesia akan sepakat kalau kualitas pendidikan di Indonesia, entah itu di kota atau di desa, rata-rata sangat memprihatinkan. Mulai dari fasilitas berupa gedung, guru hingga manajemen serta kurikulum yang tidak kompeten. Murid-murid yang tidak bersemangat, yang sekolah hanya demi mendapatkan ijazah atau nilai di atas kertas yang baik. Yang lebih memprihatinkan lagi, sekolah cuma buat lulus UAN!
UAN bagi sebagian besar sekolah sekarang sudah menjadi momok yang sangat menakutkan, sehingga sekolah sangat berfokus pada UAN. Yang penting, murid-murid bisa lulus UAN!
Bagaimana dengan fungsi sekolah yang harusnya bisa membentuk calon-calon pemimpin bangsa? Pemimpin bangsa tidak akan mendapatkan soal UAN dan wajib lulus UAN untuk sebagai bukti kalau dia hebat. Pemimpin bangsa harus punya values/nilai-nila, visi, semangat, kemampuan berorganisasi, dsb. Bukan sekedar IQ yang tinggi atau lebih parahnya lagi, bukan sekedar mampu lulus UAN.
Sekolah harusnya dapat membentuk siswa-siswi yang bersemangat, punya visi untuk masa depan mereka dan memiliki nilai-nilai luhur, singkatnya mengedepankan IQ, SQ, EQ dan AQ secara bersamaan.
Kualitas guru di Indonesia juga menjadi masalah besar. Bagaimana mungkin mendapatkan guru yang berkualias kalau yang jadi guru adalah mereka yang merupakan kelas 2 di sekolah mereka sebelumnya. Mengapa tidak? Kalau kita lihat di zaman sekarang ini, mereka yang pintar-pintar akan memilih jurusan yang cukup populer, seperti bisnis, teknik, dokter, dsb. Mana ada yang mau jadi guru? Alasannya? Tidak ada masa depan yang jelas, gaji kecil dan tidak dihargai. Image guru yang harusnya merupakan seorang yang berwibawa, pintar, mengayomi, menjadi teladan sudah hilang sekarang ini. Jarang sekali mereka yang berkualitas mau menjadi guru, jangankan di desa, di kota saja jarang ada yang mau.
So? What our government gonna do? Until now, nothing. Tidak ada kejelasan visi besar pendidikan. Kurikulum hanya jago kandang dan jarang mengalami perbaikan besar. Kalaupun ada, perbaikan itu hanya menambal satu sisi, sementara sisi lain pendidikan kita juga perlu ditambal. Hasilnya, ya tambal sana sini tanpa adanya grand design. Bayangkan kalau kita pakai baju yang ditambal sana-sini, memalukan bukan?
Jago kandang. Why? Karena sekali lagi kita berputar-putar di urusan UAN. Bukannya membentuk siswa-siswi yang dapat bersaing di dunia global, kita malah mengurusi urusan-urusan yang bersifat sangat IQ. Tak heran kalau pelajar Indonesia mampu menjadi juara olimpiade-olimpiade fisika, kimia atau biologi. Tapi kalau sudah soal menjadi pemimpin, menjadi pekerja yang profesional atau sekedar menjadi masyarakat yang berbudaya dan global, semua itu hanya segelintir orang saja yang mampu.
I’m tired of whining and hoping that there will be a miracle that could drive our government to just stop for a sec and think of our education!
To be a great country, there is nothing more important than education! If not, you just pray for miracles from heaven to help us.
Category: Nationality

We need an innovation in our education world! more than intelligence, we need to increase our human resource quality!
mungkin salah satu yang sering terjadi itu kalau anak Indo ditanya cita2nya, jawaban standar kyk pilot, dokter, de el el yang keluar. Ga ada yang berani buat jadi presiden, guru atau pemilik organisasi, aktif LSM, atau bahkan jadi duta besar, dsb. Pekerjaan2 itu dianggap janggal, padahal pilot, dokter, dsbnya itu kadang2 hanya diucapkan namun tidak benar2 dihayati. Guru2 pun jadi merasa tak apa kalau anak muridnya punya cita2 seperti itu pas ditanya, toh mungkin dalam pikiran sang guru "ah, nanti juga berubah".
Karena 'nanti juga berubah' itu, guru2 sekarang tidak benar2 membantu siswa buat menemukan mimpi mereka, jadilah anak2 Indo banyak yang telat menemukan mimpi mereka yang pada akhirnya membuat mereka kalah start dari anak2 bangsa lain. Bayangkan kalau dari SMP sudah sungguh2 ingin jadi arsitek, diajari arsitek dasar, pasti kalau sudah lulus kuliah, wah..ilmunya segudang dan ga bakal kalah sama anak2 dari negara lain.
Mungkin tidak sedikit mahasiswa yang merasa agak 'asing' waktu lulus dari tempat kuliah menuju ke dunia kerja. Wew, mungkin sebaiknya kata 'bekerja' sudah dibiasakan mulai dari SMP-SMU kalo enggak bisa bingung waktu lulus nantinya (kayak di jepang ada kerja sambilan dimana2 hehehe...)
Btw, apakah Ten Ryu yang agak parno ato memang terjadi: Sekolah2 agaknya menekan murid agar tidak kreatip. Misal aja seorang guru ngajar rumus A dan murid menemukan rumus B, meskipun rumus B benar tapi akan disalahkan jika dipakai dalam ujian. (misalnya loh... kalo ada guru yang baca en tersinggung maka tujuan saia tercapai wakakaka...)