Blogger Template by Blogcrowds

I Stop Listening to Her

Saat kuliah beberapa waktu lalu, salah seorang dosen saya mengatakan dengan jelas “S1 itu kamu kerjanya cuma menghapal”.

From that day, I stop listening to her.


Mungkin karena saya merasa apa yang dikatakan oleh dosen itu tidak benar untuk sekarang ini. Kalau kuliah buat menghapal, lalu apa gunanya otak ini? Apa gunanya menghapal isi buku namun sama sekali tidak mengerti isi buku itu. Yang lebih parahnya, kalaupun mahasiswa bisa menghapal isi buku, apa gunanya kalau mahasiswa tersebut tidak mengenal pembelajaran di luar buku. Apa gunanya mengerti bagaimana menjadi entrepreneur namun pada kenyataannya apa yang dikatakan di buku sama sekali tidak membantu saat di dunia nyata?


Di zaman dahulu kala, mungkin pernyataan dosen saya bisa saja betul. Namun zaman sekarang, disaat internet menjadi sumber informasi tanpa batas, saya 100% tidak setuju atas pernyataan beliau. I do respect her, but I’m paying more attention to whatever she said because of her stupid comment. She is an old woman, but old doesn’t mean that your brain must be dead.


Kembali ke pernyataannya. Pendidikan memang memiliki teori. Apapun bentuknya, teori itu mutlak DIMENGERTI. Untuk mereka yang merasa teori itu hanya untuk DIHAPAL, apa yang akan terjadi kalau teori itu ternyata tidak lagi berlaku karena munculnya teori baru yang ternyata lebih realistis untuk dunia sekarang ini.

Kita tidak hidup di zaman dictatorship yang penuh dengan doktrin-doktrin pemaksaan terutama dibidang pendidikan. Menghapal bukan kebutuhan sekarang ini karena informasi yang sangat cepat berkembang. Apa yang dikatakan seseorang detik ini, mungkin saja besok, 1 jam atau 5 menit kemudian sudah tidak berlaku lagi karena perkembangan yang sangat cepat.

Kesimpulannya, saya sangat kecewa dan tidak habis pikir mengapa masih saja ada dosen yang harusnya mengajar membentuk paradigma yang benar malahan mengeluarkan pernyataan yang tidak realitis seperti itu.

4 Comments:

  1. Ten Ryu said...
    Well, menurut saia seh dosen anda separo bener. 'coz what we look for in college is 'title' right? for us who needs knowledge and have an unquenched thirst for it, we can just look everywhere. tapi permasalahannya kemampuan kita tidak akan (bisa dengan mudah) dilihat oleh orang2 yang buta oleh gelar akademis.

    For those who learn things by doing won't get the title but they get skills that sometimes even better thatn those that 'titled'. Ironic isn't it?
    Johan said...
    yup, menurut saya sih sedikit keterlaluan saja univ yang ngaku2 bertaraf Inter ternyata masih sangat konservatif a la Indo zaman dulu.

    emang bener kita perlu apal juga beberapa kasus, tapi kan bukan berarti semuanya harus menghapal! kalau begitu balik lagi dung ka zaman pencekokan pendidikan tanpa boleh mengeluarkan pendapat lain!
    Seyren said...
    Ses, katakan ke dosen anda yang gila itu kalo pernyataan dia itu ditertawakan dengan kencang oleh segenap anak FSRD Indonesia.

    Menghapal tanpa pemahaman sama saja bullshit, yes? Mengerti teori tanpa penerapan dalam praktek sama saja useless, yes? Untuk apa gw menghapal teori-teori tentang komposisi dan warna kalo kenyataannya gw ga bisa menggunakan semua itu untuk menghasilkan sebuah desain yang menarik? Untuk apa gw menghapal nama-nama karya-karya seni yang terkenal tanpa memahami apa yang membuat mereka terkenal? Untuk apa gw punya kumpulan teori banyak tapi begitu ditanya gw hanya bisa bilang "menurut buku begitu"?

    Knowledge without understanding is ignorant. That's no different than pretending to know.

    Such absurd statement! Like a crocodile in a miniskirt. HA. HA.

    Ses, jitak dosen anda itu. Pernyataannya yang gila itu offending bagi mahasiswa FSRD di seluruh dunia.
    Johan said...
    @seyren:*tepok tangan sambil dengerin Inul..alah*

    BETUL! dan saya sangat setuju pendapat ses s..n mahasiswa FSRD jelas 100% mendapat dukungan mahasiswa komunikasi! untuk apa apalin teori komunikasi klo ga bisa dipraktekkan! ini gila..akah.

Post a Comment



Newer Post Older Post Home