Blogger Template by Blogcrowds

Bangsa Barbar

Kejadian ini baru terjadi Sabtu, 22 November kemarin. Saat sedang dalam perjalanan pulang, seperti biasa kondisi jalanan Jakarta lagi macet-macetnya. Disebelah saya, ada sebuah mobil pick up dan didepannya ada angkutan kota a.k.a angkot. Tiba-tiba saya melihat kedua supir tersebut saling memaki dan mulai mengeluarkan kata-kata kotor. Awalnya saya kira hanya saling menggertak, tapi hanya dalam waktu yang sangat singkat keduanya membuka pintu mobil masing-masing dan mulai beradu fisik ditengah jalan meninggalkan mobil mereka sementara situasi jalanan lagi macet. Andai saja mobil saya tidak kebetulan sudah jalan disaat bersamaan dengan kejadian itu, pasti sudah saya rekam.

Anyway, saya jadi berpikir, mengapa ya sekarang ini banyak sekali permasalahan yang harus diselesaikan dengan kekerasan. Mulai dari demo yang tujuannya baik menjadi anarkis, kriminalitas terutama di Jakarta yang sepertinya terus meninggi, sampai berita-berita berbagai bentuk mutilasi, pemerkosaan, penganiayaan, pembunuhan, pemboman, dsb.


Artikel di Kompas beberapa waktu lalu pernah membahas mengenai peran media dalam membentuk perilaku kekerasan masyarakat Indonesia. Tapi kalau menurut saya, permasalahan paling dasar adalah budi pekerti masyarakat kita yang sepertinya harus dibentuk kembali. Kalau dulu (semoga masih ada yang berpendapat hingga sekarang) masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah, tenggang rasa, berbudi baik, saling menolong, dsb, sekarang saya rasa sangat sulit menyebutnya demikian. Bukti-buktinya memang sangat jelas karena Nampak dalam realitas sosial sehari-hari.


Budi pekerti memang terkesan pelajaran sangat ‘orde baru’. Buat yang anti sama orde baru, pasti merasa bahwa budi pekerti itu seperti doktrin saja. Menurut saya, tak ada salahnya doktrin selama doktrin itu membentuk kepribadian bangsa. Sepertinya setelah reformasi, masyarakat menjadi bebas dan akhirnya terlalu bebas dan merasa tidak ada yang bisa mengatur lagi. Pelajaran-pelajaran dasar seperti membentuk sikap tenggang rasa, saling menolong, bertanggung jawab, dsb, sudah menjadi pelajaran yang dianggap basi dan tidak menarik. Akibatnya, banyak yang terjadi seperti sekarang ini.


Tidak hanya itu, tapi kemiskinan yang semakin tinggi dan pendidikan yang rendah juga memicu tindak kekerasan dimana-mana. Kemiskinan menimbulkan social gap yang jauh antara si kaya dan si miskin pada akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial. Pendidikan yang rendah menimbulkan ketidakmampuan mengembangkan pola piker yang dewasa, menerima keterbukaan, toleransi, kritis namun tidak anarkis.


Semoga saja pola kekerasan ini bisa diubah lewat peran serta aktif pemerintah, swasta, kelompok agama, media dan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat yang terkadang memiliki ideologi yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya termasuk kekerasan. Bahaya sekali kalau sampai kekerasan ini menjadi budaya bangsa. Sangat memalukan kalau kasus seperti IPDN terulang lagi dan ditonton seluruh masyarakat tidak hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia. Kita bisa dicap bangsa bar-bar.

1 Comment:

  1. Ten Ryu said...
    Apakah memang karena menyakiti orang lain itu mudah? maka mereka menyakiti orang lain entah secara verbal ato fisik? wew... yang jelas bangsa kita ini salah satu bangsa yang gampang memperkeras suara en gampang naek darah.

    kalo bangsa ini disebut bangsa barbar, berarti kita bukan bangsa Indonesia dunk? wekekeke... we are The Generation of Changes huh? When the time comes, let's restore this country to be greater than it's former glory!! ;D

Post a Comment



Newer Post Older Post Home