Blogger Template by Blogcrowds

Menunggu atau Menciptakan

Ada banyak sekali orang yang menganggap bahwa kesempatan adalah hal yang sangat patut ditunggu dan tidak boleh dilewatkan. Jelas sekali bahwa hal itu benar adanya. Kesempatan tidak datang dua kali, seperti yang banyak dikatakan orang. Kesempatan adalah hal yang bisa saja datang sangat sering atau sangat jarang dan karenanya, ia adalah harta yang tak ternilai harganya.


Sekarang bagaimana kalau ternyata kita adalah orang yang mampu menciptakan kesempatan? Bahwa kesempatan itu tidak datang, namun diciptakan oleh manusia. Kita bukan hanya sekedar mencari kesempatan, namun menciptakan kesempatan.

Dalam talk show Kick Andy diceritakan mengenai Era Bakti Pertiwi. Seorang dokter yang baru saja lulus dan karena tidak percaya diri menunggu datangnya kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Setelah membaca buku Laskar Pelangi, ia menjadi sadar bahwa ini bukan saatnya untuk menunggu kesempatan. Manusia diciptakan untuk mencari dan menciptakan kesempatan itu sendiri.

Seperti apa menciptakan kesempatan itu? Dengan pertama-tama dan yang terutama adalah memiliki visi yang jelas tentang arah hidup. Kemudian menjadi orang yang gigih, semangat, tidak mudah putus asa apalagi menyerah pada keadaan. Singkatnya, menjadi manusia yang efektif seperti ditulis Stephen R.Covey dalam The 7th Habits of Highly Effective People. Atau menjadi orang yang memanfaatkan keterampilan yang ia miliki untuk menciptakan kesempatan itu, misalnya menjadi seorang entrepreneur.

Orang-orang yang hanya berpasrah saja menunggu datangnya kesempatan tidak memiliki kebulatan tekad untuk mencapai apa yang ia inginkan. Lebih gawat lagi, tidak tahu apa yang ia inginkan. Pengaruh lingkungan, termasuk keluarga dan masyarakat serta budaya jelas memberi efek besar pada paradigma memanfaatkan kesempatan yang ada (yang datang entah kapan) atau menciptakan kesempatan itu sendiri.

Kesempatan yang ditunggu berarti tidak memiliki visi. Kesempatan yang dicari dan diciptakan berarti mengetahui visi dan memperjuangkannya. Ketika kita berpasrah, kita tidak punya semangat juang yang tinggi. Ketika hal itu terjadi, sama saja dengan kita tidak memiliki kehidupan untuk diperjuangkan. Semuanya harus tergantung pada pengaruh orang lain, pengaruh teman, keluarga, lingkungan. Hanya menunggu, menerima, pasrah dan tidak mengubah keadaan. Hanya menunggu kesempatan dan tidak menciptakan kesempatan.

3 Comments:

  1. Patty said...
    ko johan dah baca smua buku nya The Coveys ya.?
    haha..
    tapi di depan you bilang kalau "Jelas sekali bahwa hal itu benar adanya."
    tapi di blkg "Hanya menunggu, menerima, pasrah dan tidak mengubah keadaan."

    jadi yg pertama itu betul atau salah.? x3
    Johan said...
    ya betul, ya salah juga..hahaha..tergantung dr mn liadnya, hahaha..
    Ten Ryu said...
    hahaha... kebanyakan orang sukses itu 'membuat' kesempatan kok... yang kagak kayak gitu kebanyakan bakal cepet lengsernya wekekeke... :D

Post a Comment



Newer Post Older Post Home