Ketika resesi ekonomi menyerang seluruh dunia, banyak perusahaan yang jatuh bangkrut. Mulai dari perusahaan-perusahaan multinasional hingga mereka yang bermain di tingkat regional dan nasional. Resesi ekonomi adalah bukti bahwa lingkungan, dalam hal apapun itu (misalnya: dalam bisnis, dalam kehidupan sosial, politik, teknologi, dsb) selalu berubah. Perubahan itu saling terkait. Ketika terjadi perubahan seperti resesi ekonomi, kehidupan sosial masyarakat yang tadinya menikmati kemakmuran pun menjadi terkena efek negatifnya. Pasar modal menjadi tidak karuan, nilai tukar mata uang tidak stabil, kepercayaan investor menjadi berkurang, penanaman modal tersendat, dan beragam efek-efek negatif lainnya dari perubahan lingkungan ekonomi ini.
Namun, masih banyak perusahaan yang berhasil survive sampai sekarang. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah mereka yang telah menyiapkan diri menghadapi perubahan. Mereka sadar betul bahwa perusahaan harus terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan.
Perusahaan harus terus belajar sesuai dengan filosofi ilmu yang tidak berujung, yang akan berakibat pada kesiapan perusahaan membaca perubahan lingkungan dan mengantisipasi serta telah siap dengan langkah-langkah penyelematan jika perubahan mempengaruhi perusahaan.
Sedangkan bagi mereka yang tidak berubah, banyak yang terlalu nyaman dengan comfort zone masing-masing. Banyak yang merasa status quo mereka adalah yang terbaik. Dengan pemikiran seperti ini, akhirnya menimbulkan ketidaksigapan dalam membaca perubahan lingkungan. Padahal ketika perubahan itu bersifat kecil dampaknya, hal yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah berani berinovasi, keluar dari comfort zone. Meskipun perubahan membawa efek takut dikritik, takut gagal, takut kredibilitas menurun karena kegagalan/kritik tersebut.
Mereka yang tidak mau berubah, dapat merasakan efek peruabahan yang bersifat mengikis atau ada juga yang seperti tsunami, tiba-tiba dan sangat mematikan. Ketika perubahan itu mengikis, tindak pencegahan dapat lebih mudah dilakukan. Namun ketika ia adalah tsunami, perusahaan tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Selain pasti akan tertinggal oleh pesaing, tidak mengikuti perubahan akan membuat budaya dalam perusahaan menjadi budaya yang close minded. Budaya operasional yang membawa pada putaran dilingkaran setan. Sementara diluar sana, terjadi arus perubahan yang tidak berhenti yang sewaktu-waktu siap menghantam bangunan kokoh dan kaku perusahaan.
Category: Business
2 Comments:
-
- Ten Ryu said...
March 29, 2009 1:00 PMwell, dunia ini dinamis, orang2 yang statis pasti mati di sini. ^^- Kurniadi Bulhani said...
April 16, 2009 4:41 PMtsunami,bahaya...ya!!!
